joomla templates
A+ R A-

Articles

Kalah di Praperadilan,Bareskrim Kembalikan Kapal Pesiar

E-mail Print PDF

Rabu, 18 April 2018

jpnn.comJAKARTA - Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen Rudi Heryanto buka suara tentang menangnya gugatan praperadilan Equanimity Cayman Ltd atas penyitaan kapal pesiar.

Sesuai putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu, pihaknya akan menyerahkan kapal yang disita ke pemiliknya.

“Dittipideksus Bareskrim Polri akan mematuhi perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk mengembalikan kepada pemiliknya yaitu Equanimity (Cayman) Ltd," ujar dia Bareskrim Polri , Gambir, Jakarta Pusat.

Dia juga mengklarifikasi, masalah kapal pesiar Equanimity ini tak ada kaitan dengan kasus 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menyeret Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Diketahui, hakim Ratmoho memutus penyitaan kapal pesiar superyacht Equanimity Cayman yang dilakukan Polri tidak sah. Putusan pengadilan juga mengharuskan Polri mengembalikan penyitaan kapal tersebut.

“Mengabulkan permohonan praperadilan oleh pemohon dengan membatalkan surat penyitaan Polri tanggal 26 Febuari 2018, dan menghukum termohon untuk mengembalikan kapal pesiar kepada pemohon," kata Ratmoho di PN Jaksel, Selasa (17/4).

Menurut hakim, pemohon yang diwakilkan tim pengacara Andi Simangunsong telah membuktikan dalil-dalil permohonan sehingga permohonan dari pemohon layak untuk dikabulkan.

Sesuai amar putusan, Polri juga dinilai bertindak melebihi kewenangan dengan menerbitkan perkara baru. Padahal, dalam surat yanf diterima dari atase FBI menyatakan Polri hanya diminta melakukan operasi gabungan. Sebelumnya, sebuah kapal pesiar mewah senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun disita Bareskrim Tanjung Benoa, Bali.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri kala itu masih dijabat Brigjen Agung Setya mengatakan, kapal tersebut merupakan barang bukti yang diduga hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat.

Agung mengatakan, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari 2018 yang isinya permintaan bantuan kepada Polri untuk mencari keberadaan kapal tersebut.

"Jadi, FBI AS melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Kami membantu," kata Agung. (mg1/jpnn)

https://www.jpnn.com/news/kalah-di-praperadilan-bareskrim-kembalikan-kapal-pesiar

 

Pesan Lawyer Senior Saat Bicara Radikalisme

E-mail Print PDF

Jumat, 16 Juni 2017

Sebagian pihak memandang kondisi kebhinnekaan Indonesia saat ini berbeda dengan era sebelumnya. Di era sebelumnya, kondisi rasa persatuan dan kesatuan Indonesia sangat kuat tanpa membeda-bedakan suku, agama, etnis. Kondisi ini terjadi disinyalir karena masuknya paham radikalisme dan fundamentalisme di Indonesia yang menimbulkan perpecahan antar elemen masyarakat.

“Untuk itu, lawyer, start doing something, lakukan sesuatu dari sekarang demi keutuhan Indonesia,” kata Lawyer Senior Todung Mulya Lubis di Tugu Kunstkring Paleis Jakarta, dalam Acara Buka Bersama Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Kamis (15/6/2017). Todung menilai kondisi sosial saat ini apabila tak sepaham dengan kelompok tertentu dicap sebagai musuh. “Sekarang ini jika tidak sependapat, sepaham, tidak seiman dengan paham (radikalisme), dikafirkan dan menjadi musuh. Padahal sebagai lawyer kita tahu betul mana kawan dan lawan, terlebih lagi jika dalam persidangan,” ujarnya.

Menurut Todung sangat berbahaya buat bangsa ini jika paham radikalisme dan fundamentalisme masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari dunia kampus, sosial media, dan masjid sudah menjadi basis kelompok paham radikalisme dan fundamentalisme.

Dia mengajak alumni FHUI baik yang berprofesi lawyer, aktivis, akademisi harus peduli dengan persoalan dengan bangsa ini agar tidak timbul perpecahan yang dapat membuat Indonesia hilang dari peta dunia. “This is not Indonesia kalau terpecah belah,” tuturnya.

“Sebagai lawyer kita mesti melakukan kerja lebih untuk Indonesia, mengambil tanggung jawab bersama atas beban sejarah yang dialami Indonesia saat ini.” Baca Juga: Jelang Hari Lahir Pancasila Sejumlah Advokat Nyatakan Sikap Bela Pancasila

Dia mensinyalir ada bahaya fenomena “hijaunisasi” yang berkonotasi dengan radikalisme dan fundamentalisme yang menakutkan di sosial media, kampus dan masjid. “Ini sangat menakutkan munculnya kebangkitan gerakan yang bisa menghancurkan sendi-sendi kemajemukan sebagai bangsa dan bisa merobohkan pilar-pilar keberagamaan kita,” ujarnya

Todung berharap agar para lawyer bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi paham radikalisme. “Kita punya uang, tidak banyak memang, tapi bisa melakukan perubahan, seperti membuat sekolah pluralisme, pesantren pluralisme, dan kegiatan bentuk lain yang tidak menimbulkan perpecahan,” tutupnya.

Senada, salah seorang pendiri Lawfirm Soemadipradja & Taher, Hafzan Taher mengatakan keadaan Indonesia saat ini bisa menjadi pembelajaraan bersama. “Saya khawatir melihat sosial media yang bahasanya begitu kasar dan saling bermusuhan antar kelompok yang satu dengan kelompok lain,” katanya.

Padahal, Islam memegang teguh prinsip rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam bukan hanya rahmat kepada umat Islam saja, tetapi juga umat agama lain dan lingkungan sekitarnya. ”Nah, ada nilai-nilai kedamaian disana."

“Adanya kegundahan yang terjadi saat ini, mari kita melakukan sesuatu bahwa Islam itu bukan seperti yang terlihat di media sosial. Jangan sampai Indonesia ke depan seperti Suriah nantinya, itu mengerikan sekali,” ujarnya.

Acara Buka Bersama Alumini FHUI ini dihadiri oleh advokat senior Luhut MP Pangaribuan, akil Ketua Komisi Yudisial Sukma Violetta, Guru Besar Hukum Tata Negara FH UI Satya Arinanto, penyanyi Once, dan beberapa alumni lain yang menggeluti beragam profesi, seperti aktivis, akademisi, penegak hukum, advokat, profesi hukum lain, pejabat negara, dan lain-lain.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt594396344ae2a/pesan-lawyer-senior-saat-bicara-radikalisme

Buyat Case - Economic Growth versus Environtment

Print PDF

book

The Buyat Bay case reflects the never ending tension between the concept of economic growth on the one hand and that of environmental management on the other. This is a classical tension that can never be satisfactorily resolved, although people have, on many occasions, talked about the concept of sustainable development,

Asset Recoveries

Print PDF

book

Beberapa waktu lalu, Colin Joseph, pengacara dari kantor hukum Kendall Freeman, London, menulis e-mail kepada Emmy Hafild. E-mail itu juga dikirim ke alamat saya. Pengacara itu menghidupkan kembali gagasan untuk mengejar kekayaan negara yang raib ke luar negeri pada zaman pemerintahan Soeharto.

The Necessity for Corporate Social Responsibility

Print PDF

book

In the past, various groups in society believed that the business and social worlds were two separate and opposing poles. They assumed that business was definitely in contradiction to social matters, and were of the thinking that social and public interests would always harm business operations.

Page 1 of 4

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »