joomla templates
A+ R A-

News Events

Todung Mulya Lubis: Pengadilan Salah Satu Lembaga Korup di Indonesia

E-mail Print PDF

Kamis, 30/03/2017 - 14:24:33 WIB

Todung Mulya Lubis

JAKARTA-FPC:Praktisi hukum Todung Mulya Lubis masih melihat lembaga peradilan sebagai salah satu lembaga terkorup. Hal itu dikatakan berdasarkan riset Global Corruption 2017

"Lembaga peradilan salah satu lembaga korup di Indonesia. Selain DPR, birokrasi pemerintah, Ditjen Pajak, dan Kementerian, dan yang ketujuh lembaga peradilan," ujar Todung dalam acara diskusi bertajuk 'Meluruskan Kembali Peradilan di Indonesia' di Gedung Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (30/3/2017).

Dalam acara diskusi itu juga hadir Wakil Ketua Komisi III Benny K Harman, mantan Ketua KY Suparman Marzuki dan Ketua Umum PP Pemuda Muhamadiyah Dahnil Anzar Simanjutak. Todung menyatakan label korup meski berada di nomor urut akhir, tetapi tetap mencoreng MA

"Meski nomor tujuh, bukan nomor satu dan dua menjadi lembaga korup sebesar Indonesia, tidak menjanjikan masa depan baik Indonesia," papar Todung.

Todung mengatakan tidak hanya sekedar korupsi, tetapi ada banyak cap bobrok lainnya di MA. Ada seribu satu masalah mulai dari kolusi hingga prosedur penanganan perkara.

"Ini bertentangan dengan asas peradilan yang cepat dan murah," pungkas Todung.

Di tempat yang sama, Benny melihat MA harus potong generasi untuk perbaikan sistem. Oleh karena itu munculnya RUU Jabatan Hakim untuk dapat dilakukan perbaikan dengan mempensiunkan dini para hakim.

"Oleh karena itu kita ingin memotong satu generasi hakim agung, jangan lama. Perpanjang usia hakim bukan solusi, karena lama-lama hakim agung nikmati, sehingga tidak responsif," tutur Bennny.**

 

http://faktapost.com/read-3203-2017-03-30-todung-mulya-lubis-pengadilan-salah-satu-lembaga-korup-di-indonesia.html

Todung Mulya Lubis Raih Penghargaan dari Berkeley

E-mail Print PDF

Kamis, 02 Februari 2017 | 13:52 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Todung Mulya Lubis mendapatkan penghargaan Elise and Walter A. Haas International Award dari Universitas Berkeley, California, atas aktivitasnya di Indonesia selama ini. Todung dianggap telah banyak berjasa dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

"Ini surprise dan agak tak percaya saya mendapatkan penghargaan yang sangat prestigious ini," kata Todung saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Februari 2016.

Elise and Walter A. Haas International Award diberikan Universitas Berkeley pada para alumninya yang dianggap telah membawa perubahan di negarannya. Todung dinilai berjasa memperjuangan hak asasi manuisa (HAM) dan penegakan hukum di Indonesia. Selain itu, Todung dianggap telah banyak bersuara menyerukan pemilihan umum yang bebas dan adil, juga aksi melawan korupsi.

Todung merupakan pendiri divisi hak-hak asasi manusia di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan merupakan salah satu jaksa dalam pengadilan rakyat 1965 atau International People Tribunal(IPT 1965).


Univeristas Berkeley merupakan kampus tempat Todung menyelesaikan studi magisternya di jurusan hukum. Sebelumnya, ia menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia.

Selain terkejut dengan penghargaan ini, Todung tersanjung. Ia merupakan orang ketiga yang menerima penghargaan ini. Sebelumnya penghargaan ini diberikan kepada Widjojo Nitisastro (1984) dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti ((2002).

"Dua orang itu kan pejabat, menteri saat mendapat penghargaan itu. Saya ini warga negara biasa yang melaksanakan yang bisa saya lakukan di luar pemerintahan," kata Todung.

Sebelum Todung, di tahun-tahun sebelumnya ada 45 orang penerima penghargaan lain yang dipilih oleh Universitas Berkeley. Berdasarkan surat pemberitahuan itu, Todung akan menerima sejumlah uang tunai beserta medali penghargaan.

Ia pun berencana hadir dalam acara seremoni penyerahan penghargaan di Univeritas Berkeley pada 13 Mei 2017. "Saya InshaAllah akan datang," kata dia.

EGI ADYATAMA


https://m.tempo.co/read/news/2017/02/02/079842249/todung-mulya-lubis-raih-penghargaan-dari-berkeley#menu-left

New Trademark Law: Opportunities, challenges for brand owners

E-mail Print PDF

By Aga Nugraha
LSM Intellectual Property Practice Group

Amid the increasing awareness of the significance of intellectual property (IP) in today’s digital economy, we have seen some promising developments in Indonesia’s IP regulatory framework.

Within two years, the government has passed new pieces of legislation for copyright, patent, and most recently trademark protection. Although the mechanisms of IP enforcement, legal enforcement and border customs protection system remain difficult, the new legislation has been much-welcomed among Indonesia’s IP players.

The 2016 Trademark and Geographical Indications Law includes various specific provisions on geographical indications. Much has been talked about the new provisions and changes in the law. This article will instead focus on some of the possible practical implications resulting from the changes, particularly the ones affecting well-known trademark protections against bad-faith registrations and trademark squatters.

Despite many positives, unfortunately the new law retains some of the flaws from the previous law, which may perpetuate or even worsen the recurring issues of bad-faith registrations and trademark squatting, to the detriment of brand owners and the trademark-protection system in Indonesia.

The 2016 law simplifies the requirements and procedures of trademark registration by providing that a trademark application will be granted a filing date once all the minimum requirements (i.e. complete application form, mark label, and proof of fee payment) are met.

The application will then qualify for publication in the trademark gazette for two months. A written opposition (on relevant grounds under the law) may be raised during the publication period, after which the application proceeds to the substantive examination stage.

This is a significant procedural change and in theory may speed up the registration process. However, this can also create some practical issues and unwanted implications that may aggravate the issues of bad-faith registrations and trademark squatting.

Apparently the first stage of application only boils down to formalities and there may be little or no checks on the substance of the application or whether or not it is made with a bona fide intent to use the mark in commerce. Again, while this simplified process benefits legitimate applicants, trademark squatters may also come out of the woodwork to exploit it, resulting in more bad-faith registrations, which in turn compounds the Directorate General of Intellectual Property’s backlog and effectively blocks bona fide registrations.

Consequently, trademark owners must now routinely monitor the trademark gazette for any potentially offending application and respond accordingly through either opposition or engaging in litigation.

In IP law, well-known trademarks generally enjoy broader protection covering not only identical goods/services (e.g. infringing use of the Rolex trademark in timepiece products) but may also extend to dissimilar goods/services (e.g. infringing use of the Rolex trademark beyond timepiece products, for instance, in home appliances).

Previous Indonesian trademark laws contain no clear guidelines on the protection of well-known brands for dissimilar goods as this was passed on to a separate government regulation. The regulation was never issued and the resulting gap has led to some inconsistent court decisions involving trademark disputes in the past (for example, see the IKEA v. IKEMA and BABY DIOR cases).

Fortunately, the law now clearly states that similarity (either in essence or in whole) to well-known trademarks for dissimilar goods/services is one of the grounds for refusal, whereas previously the law merely stated that registration refusal might also extend to dissimilar goods/services (subject to certain conditions).

Note that the new law still requires certain conditions to be met, and similarly passes on the matter to a yet to be issued implementing regulation. This implementing regulation is key since it will govern matters related to bad-faith registration based on similarities to registered trademarks or well-known trademarks.

Otherwise, we will have no clear guideline governing the protection of well-known brands of dissimilar goods/services apart from Article 16(3) of the WTO Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS), leaving their fate for the most part at the court’s discretion.

Another problematic provision is the article concerning mark removal due to non-use. The 2016 law mainly rehashes the provisions of the old law, stating that “removal of mark from the marks registry may be done if a mark has not been used for three consecutive years in commerce since the date of registration or last use.” This particular wording is vague, and as evidenced by several inconsistent court precedents over non-use cases, this may cause further uncertainties and frivolous legal threats against brand owners (see “IKEA verdict, another bad sign for intellectual property rights”, The Jakarta Post, Mar. 4, 2016).

The 2016 law now allows new applications for generic names derived from “genericized” registered marks (marks that have become generic descriptors of the class of goods [e.g. aspirin, escalator] over time through usage and hence become unprotected), provided that the applicant adds a distinguishing element to it.

As a comparison, in the US for instance, the parameters for “genericness” have been well-established through numerous case precedents. Further, under the US law a registered mark may be canceled due to “genericide,” but it does not instantly turn a brand registrable for other parties.

By contrast, apparently the new law does not require a cancelation proceeding prior to registration of “genericized” marks. The law also contains no further parameters or guidelines on how and when a mark becomes generic despite the lack of precedents from Indonesian case law. This could attract an influx of new applications over names derived from famous brands perceived (at least in the applicant’s mind) as generic. Brand owners must then also prepare to defend their trademarks and oppose any offending application.

Many famous brands — both local and foreign — have been widely used by the general public in Indonesia over time to describe certain classes of goods (ranging from foods to electronics) which in turn may expose the brands to “genericide,” and further seen as “up for grabs” for registration by the public.

Thus, brand owners here — particularly famous brands — must now actively develop the means or enhance the existing measures to educate the public and consumers (a la Lego or Xerox) to prevent their trademark from becoming generic.

The 2016 law features many long-awaited improvements that may enhance the regulatory framework for trademark prosecution and protection particularly for new burgeoning businesses thanks to a simpler registration and publication process, among other things. However, there remain some flaws that if left unchecked may perpetuate the issues of bad-faith registrations and trademark squatting. Given the remaining regulatory gap, as well as new potential challenges and burdens for trademark owners posed by the new law, protecting trademarks in Indonesia remains a challenging affair.

In this light, brand owners now need to devise extra measures and crank up their IP asset protection and management system in Indonesia to keep their trademark legally healthy, lest they find themselves on the wrong side of the law or even losing their brands altogether.

Published on the Jakarta Post, Monday February 20, 2017

If you have any further questions, please contact Aga Nugraha, Advocate & IP Attorney at LSM IP Practice Group

Todung: Tokoh Parpol Jadi Hakim MK Bisa Sarat Kepentingan

E-mail Print PDF

Senin 30 Jan 2017, 23:05 WIB
Todung: Tokoh Parpol Jadi Hakim MK Bisa Sarat Kepentingan
Danu Damarjati - detikNews

Jakarta - Praktisi hukum Todung Mulya Lubis menilai pengganti Patrialis Akbar di posisi hakim Mahkamah Konstitusi (MK) sebaiknya diisi oleh orang dari latar belakang non-partai politik (parpol). Menurutnya, orang parpol yang menjadi hakim MK berpotensi mengalami konflik kepentingan.

"Saya pribadi melihat orang yang berlatar belakang partai politik sarat konflik kepentingan. Karena memang MK itu sangat banyak berurusan dengan Pilkada, dengan Pemilu, dengan Pilpres. Jadi nanti akan ada benturan kepentingan yang tidak mudah didamaikan," kata Todung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (30/1/2017).

Kini Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membentuk Panitia Seleksi (Pansel) calon hakim MK pengganti Patrialis. Patrialis dulu adalah tokoh usulan pemerintah, maka kini pemerintah juga perlu mencari penggantinya. Soal Pansel, Todung mengaku dulu pernah menjadi anggota Pansel semacam itu.

Todung menyatakan hal ini setelah bertemu dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan Teten Masduki. Namun pertemuan itu tak membahas soal pengganti Patrialis di MK.

"Kita nggak bicara itu," kata dia.

"Dulu waktu Palguna (I Dewa Gede Palguna) masuk menjadi hakim MK, kan juga ada Pansel. Saya ditunjuk jadi anggota Pansel waktu itu," ujar Todung.

Namun Todung tak tahu-menahu apakah dirinya akan menjadi anggota Pansel kembali atau tidak. "Mana saya tahu," jawabnya.

Yang jelas, dia berharap, hakim MK harus betul-betul kompeten. "Memang idealnya itu betul-betul mengacu kepada keahlian yang bersangkutan. Jadi jangan latar belakang politiknya yang dilihat," tandas Ketua Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) ini.
(dnu/dhn)

https://news.detik.com/berita/d-3409574/todung-tokoh-parpol-jadi-hakim-mk-bisa-sarat-kepentingan

Ujaran kebencian ancam kebhinekaan

E-mail Print PDF

Todung Mulya Lubis: Ujaran kebencian ancam kebhinekaan
Februari 27, 2017

fokusmedan : Kasus penebaran kebencian atau hate speech di sosial media tengah marak bahkan menjadi trend di Indonesia. Pakar hukum, Todung Mulya Lubis menilai, fenomena ujaran kebencian ini bisa mengancam kebhinekaan yang sudah terjalin baik sejak lama di Indonesia.

“Ancaman hate speech di Indonesia ini mengancam eksistensi kebhinekaan sebagai fundamen serta mendorong terjadinya defisit negara,” ungkapnya yang ditemu dalam peluncuran buku Penebaran Kebencian, Problem Intoleransi, dan Peranan Penegak Hukum, di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (27/2).

Sedangkan Todung juga sempat memberikan saran bahwa diperlukan kerangka hukum baru yang lebih memadai terkait pembatasan hate speech ini. Serta menurutnya, penting juga untuk meningkatkan pemahaman mengenai hate speech kepada penegak hukum karena kemampuan penegak hukum dinilai masih meragukan.

“Perlu ada kerangka hukum yang baru yang lebih memadai kedepannya dan harus menjamin keseimbangan antara tetap terlindungnya kebebasan. Dan meningkatkan pemahaman aparatur penegak hukum dalam menangani kasus hate speech. Pemahaman penegak hukum ini masih meragukan,” kata dia.

Sementara itu, Koordinator penjaringan Gusdurian, Alissa Wahid mengatakan, ujaran kebencian sudah lama terjadi. Bahkan sebelum kasus penistaan agama yang membelit Basuki T Purnama ( Ahok).

“Dari data penelitian yang jaringan Gusdurian, yang dilakukan dari minggu ketiga di bulan September hingga minggu pertama Oktober 2016. Ada 28.000 tweet berkaitan dengan kata sesat di Twitter. Bahkan menjelang aksi 411, kata kafir 19.000 dalam seminggu,” kata Alissa.

Menurut Fadli Imran, Direktur tindak pidana siber Mabes Polri, sejak didirikannya divisi cyber crime, sudah ada 18 kasus yang melanggar Undang-undang cyber masih dalam masa penyidikan dan baru satu kasus yang selesaikan.

“18 Kasus yang dilaporkan dan masih dalam penyidikan dan hanya ada 1 kasus yang baru diselesaikan. Kebanyakan kasus ejek-ejekan saja yang pindah ke media sosial. Namun yang berkaitan politis juga ada karena kan masih musim pilkada,” ujarnya. Katanya, untuk penanganan kasus hate speech di Indonesia kini masih terkendala dengan kurangnya sumber daya manusia.

“Saat ini hanya enam (analis) dan sepertinya masih kurang. Sebenarnya tidak usah banyak yang penting efektif, efisien cara kerjanya,” ujarnya.

Fadli dikutip dari merdeka.com juga mengatakan, untuk mengatasi kasus hate speech ini, yang terpenting adalah mengubah kebiasan hate speech tersebut.

“Pendekatan penegakan hukum tidak akan menyelesaikan masalah, counter speech perlu dilakukan, selain itu instansi harus melaporkan jika ada kejadian seperti ini dan masyarakat juga. yang paling penting sebenarnya adalah mengubah kebiasaan tersebut,” tuturnya.(yaya)

http://fokusmedan.com/todung-mulya-lubis-ujaran-kebencian-ancam-kebhinekaan/

Page 4 of 15